Abdul Basir Kaplale
Makassar, Pattisnews.com:
Pelantikan Raja Syarifuddin Pattisahusiwa di hari Sabtu, 23 Mei 2026 bukan sekadar memilih tanggal di kalender, melainkan didalamnya ada doa yang dibungkus dalam waktu, sekaligus harapan, agar sang raja menjadi sosok yang stabil seperti bumi. Raja juga matang dalam bersikap, dan teguh dalam memegang amanah masyarakat di Negeri Said Perintah—tokoh sentral dalam perang Pattmura 1817 ini.
Ribuan pasang mata, di antaranya, Gubernur Maluku (Hendrik Lewerissa)-bersama ketua Tim Penggerak PKK Maluku (Maya B Rampen), Walikota dan Wakil Walikota Ambon (Bodewin Melkias Wattimena- Elly Toisutta), Bupati dan Wakil Bupati Maluku Tengah (Zulkarnain Awat Amir-Mario Lawalata)), Bupati Buru (Ikram Umasugi) bersama istri. Turut serta dua legislator asal kabupaten penghasil minyak kayu putih itu Abdurrahman Tukuboya/Pattisahusiwa dan Jalil Mukadar. Serta Kadis Kesbangpol Abd Basir Toisutta dan Kadis Nakertrans, Ridwan Tukuboya/Pattisahusiwa.
Wakil Bupati Seram Bagian Timur (Muh.Miftah Thoha Rumarey Wattimena), Wakil Bupati Seram Bagian Barat (Selfinus Kainama), Sekda Namrole (Ali Awang) dan pejabat penting lainnya di provinsi para raja itu. Dua hari sebelumnya, Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath duluan bersilaturahmi dengan calon raja di rumah raja.
Bukan hanya itu, perantau negeri di Jasirah Tenggara, Kecamatan Saparua Timur dari berbagai daerah dan kota di Indonesia, hingga luar negeri pun ramai ramai menyaksikan dengan mata kepala sendiri.
Tidak salah, jika masyarakat di negeri ini melihat, kehadiran pemimpin daerah bersama sejumlah anggota parlemen tersebut merupakan “tanda mata” begitu mulia. Ini adalah pengingat bahwa, raja tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari jaringan kepemimpinan yang lebih luas.
Kehadiran begitu banyak pemimpin pemerintahan di negeri ini, bukan semata tentang penobatan figur Syarifuddin Pattisahusiwa, melainkan tentang keberlangsungan identitas di tengah era modernisasi yang begitu maju saat ini. Malah, para pemimpin itu sama sama mendengar di antara dentum tifa dan untaian narasi narasi keadatan, raja dan masyarakat bersatu dalam satu visi. Artinya, pelantikan ini adalah bentuk rekonsiliasi, antara tradisi dan modernitas.
Nah, sisi lain dari pelantikan maha akbar inipun saya menarasikan secara bersambung mulai hari ini, Sabtu, 13 Juni—bersamaan arisan Ikatan Keluarga Siri Sori Islam (IKASSI) Makassar di kediaman saya—Kompleks Anggrek Taman Rianvina Blok TR III, No 10 Minasaupa, Kota Anging Mammiri, Makassar.
Ibu ibu IKASSI Makassar saat arisan.
Di sela sela arisan IKASSI Makassar ini, ibu ibu membahas kembali “kemewahan” pelantikan raja. Saya pun berinisiatif menarasikan ingatan. Meski begitu saya pun bingung entah dimana memulainya. Namun dengan gaya bertutur ini, izinkan saya mengawalinya dengan judul “Mengapa Hari Sabtu, 23 Mei, 2026”.
Bermula dari sehari setelah pelantikan raja, sejumlah jurnalis mewawancarai Ketua Seksi Acara, Basir Kaplale di bibir jalan di Karapodi, Ahad, 24 Mei 2026. Menjawab pertanyaan Bung Yaser—dari TVRI Ambon, Basir Kaplale mengurai panjang lebar pelaksanaan peristiwa menyejarah itu.
Dari begitu banyak penjelasan, saya tertarik dengan hari ‘H’ pelaksanaan pelantikan raja, yakni Sabtu 23-Mei-2026. “Masyarakat di Siri Sori Islam ini sering memilih hari Sabtu untuk sebuah hajatan. Termasuk pelantikan raja kemarin ” ujarnya ketika itu.

Pandangan simbolis dari anak muda, sekaligus tokoh pendidik inipun saya kombain dengan penjelasan Ketua Panitia, Rahmat Kaplale. Sekretaris Desa (Sekdes) Siri Sori Islam ini mengaku, penetapan hari Sabtu, 23 Mei 2026 diputuskan secara bersama panitia pusat di Kantor Desa Siri Sori Islam, pada Ahad 28 September 2025, tepat pukul 09.00 WIT. Turut hadir saat itu, perwakilan IKASSI Ambon, IKASSI Buru, serta via zoom bersama calon raja Syarifuddin Pattisahusiwa.
Saya pun berpikir, baik Rahmat Kaplale, maupun Basir Kaplale tidak semata mau mengatakan, Sabtu adalah hari di akhir pekan dalam siklus kerja, melainkan sekaligus melambangkan penyelesaian sebuah fase, atau kematangan, dan persiapan untuk fase baru.
Apalagi, dari sudut pandang Islam, Sabtu memiliki “energi” positif, stabilitas, hingga keteguhan. Ini adalah doa yang dibungkus dalam waktu—sebuah harapan agar sang pemimpin menjadi sosok yang stabil seperti bumi, matang dalam bersikap, dan teguh dalam memegang amanah. Sabtu juga sekaligus menjadi saksi lahirnya pemimpin negeri yang diharapkan mampu menyatukan hukum adat yang membumi, dengan nilai-nilai yang menuntun ke langit.
Di sisi lain, jika dikaitkan secara numerologis, seperti terlihat dalam narasi narasi masa lalu, hari Sabtu sering dikait-kaitkan dengan unsur Siri Sori Islam yang kokoh. Bahkan, dianggap sebagai hari yang baik untuk menuntaskan masalah, dan memulai kepemimpinan dengan kepala dingin, setelah melewati hari-hari yang penuh dinamika. Dengan demikian, raja Syarifuddin Pattisahusiwa tidak mudah goyah oleh intrik intrik yang sengaja dbisikkan ‘orang-orangan’.
Lalu bagaimana dengan penetan tanggal 23 ? Tanggal ini bukan sekadar penentuan kalender yang kebetulan. Ada keterikatan mendalam antara simbolisme angka, tradisi lokal, dan esensi spiritual yang dianut masyarakat tetangga negeri Siri Sori Amalatu, Ulath, dan Ouw tersebut.
Penentuan tanggal 23 ini adalah bentuk penghormatan terhadap “keseimbangan alam dan keberkatan ilahiah”.
Jika ditilik dari masa kerasulan Muhammad SAW, kitab suci ummat Islam-Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama kurun waktu 23 tahun. Maka, tidaklah salah jika, angka 23 bagi ummat Muhammad adalah simbol dari “penyempurnaan risalah” dan “bimbingan Ilahi”.
Makanya, penentuan tanggal 23 sebagai hari pelantikan raja tidak lepas dari sebuah doa agar masa kepemimpinan sang raja senantiasa mendapatkan hidayah, sekaligus dapat menyempurnakan amanah masyarakat Siri Sori Islam, sebagaimana Al-Qur’an menyempurnakan petunjuk bagi umat manusia di muka bumi.
Dalam filosofi Siri Sori Islam, angka 23 juga diurai menjadi 2 dan 3. Kedunya memiliki makna harmoni. 2 misalnya, melambangkan hubungan vertikal, atau hubungan keesaan dengan tuhan–Hablum Minallah, dan hubungan dengan sesama manusia, atau Hablum Minannas—horisontal. Maknanya, seorang raja dituntut harus mampu menyelaraskan kepentingan Tuhan dengan kesejahteraan umatnya.
Sementara angka 3, selalu dikait kaitkan dengan konsep tiga tungku atau elemen kehidupan yang saling terkait. Apa itu tiga tungku? Yaitu, agama, adat, dan pemerintah. Jika disatu-padukan, diharapkan menjadi titik temu, di mana agama menjadi kompas, adat menjadi fondasi, dan pemerintah menjadi pelaksana lapangan.
Di sisi lain, mengapa bulan Mei? Pemilihan bulan Mei sebagai waktu pelantikan bukan terjadi secara kebetulan atau tanpa alasan. Bulan ini merupakan pertemuan antara siklus alam, memori kolektif, dan interpretasi spiritual dalam bingkai agama Islam.
Meski di satu sisi, bagi masyarakat Maluku, tentunya di Siri Sori Islam, Mei adalah bulan yang menyimpan catatan sejarah begitu kuat. Sebut saja, perang Pattimura mengusir penjajah di tanah para raja tersebut.
Meski pelantikan di bulan Mei menjadi cara untuk merawat ingatan pada sejarah agar generasi penerus Siri Sori Islam tetap memegang teguh pada masa lalu, namun saya tidak merujuk begitu pada pahlawan nasional tersebut.
Yang jelas, bulan kelima itu adalah sebuah sintesis yang indah, sekaligus merupakan pintu gerbang menuju harapan baru—di mana adat tidak menggeser agama, dan agama justru memuliakan adat dalam bingkai kepemimpinan raja yang adil. Dan, tentunya secara simbolis, raja yang dilantik di bulan ini diharapkan mampu membawa ketenangan, stabilitas, dan kejayaan bagi masyarakat.
Lalu, mengapa pelantikan raja pada tahun 2026? Setidaknya tiga atau empat kali saya bersama Syarifuddin Pattisahusiwa bertemu di Makassar. Salah satu poin penting dari pertemuan itu tercetus pelantikan dihelat tahun 2026.
Pilihan 2026 sebagai sebuah momen, di mana kepemimpinan bukan sebatas pergantian figur, melainkan revitalisasi identitas negeri yang berakar pada kearifan lokal. Di dalamnya ada”era restorasi adat”. Didalamnya juga ada sebuah “sumpah bakti.”
Masyarakat tidak hanya menanti kehadiran raja, melainkan mereka sedang menanti visi besar yang akan membawa negeri Siri Sori Islam melangkah lebih jauh dan lebih baik. Wallahu alam bissawab….(din pattisahusiwa/bersambung)














