Sambil menunggu laga di ajang piala dunia 2026, antara tim nasional Orange-Belanda vs tim nasional Swedia, tepat pukul 01.00 WITA, Ahad dinihari nanti, Sabtu, 20 Juni malam ini, saya mencoba menyambung sisi lain dari pelantikan Raja Negeri Siri Sori Islam, Syarifuddin Pattisahusiwa, 23 Mei 2026.
Di bagian ketiga kali ini saya mengangkat judul “Pembersihan Mata Air dan Hatu Malawanno/Batu Pamali yang dilakukan Upu Lima. Mengapa dan ada apa dengan mata air dan Hatu Malawanno kaitannya dengan pelantikan raja di negeri Kapitan Said Perintah-tokoh sentral dalam perang Pattimura, 1817 itu?
Salah satu ‘fragmen’ paling sakral dan masih dijaga di Siri Sori Islam adalah, tradisi pembersihan mata air. Pembersihan mata air ini bukan tentang nostalgia masa lalu telah usang, melainkan sebuah narasi hidup yang terus mengalir. Serupa dengan air yang mereka bersihkan. Tradisi ini telah mengakar kuat di tengah tengah masyarakat.
Tidak salah, jika pembersihan mata air dalam tradisi pelantikan Raja di Siri Sori Islam, merupakan titik temu antara kearifan lokal, atau adat, dengan nilai-nilai transendental, atau agama. Di sinilah membuktikan bahwa, tradisi para leluhur di negeri yang diapit Siri Sori Amalatu, dan Ulat ini sebenarnya sejalan dengan ajaran universal, Al-Qur’an, tentang pentingnya menjaga kemurnian sumber kehidupan. Itulah mengapa, tradisi ini tetap dijaga ketika Islam masuk ke Maluku, khususnya di Siri Sori Islam hingga saat ini.
Adam Sopaheluwakan—salah satu yang berperan sebagai Upu Lima, dikonfirmasi malam ini mengakui, ritual sakral yang melibatkan “Upu Lima” –merupakan representasi dari struktur sosial yang saling mengunci. Secara berturut turut Upu Lima itu yakni Sopamena, Wattiheluw, Sopaheluwakan, Saimima, dan Patti. Sementara yang bertindak sebagai panglima atau ketua adalah Salatalohy.
Menyinggung dimana dimulai pencucian mata air, Adam Sopaheluwakan mengemukakan dimulai di Wai Hoka-hoka di ujung negeri—sebelah matahari masuk, pukul 06.00 WIT. Kemudian Wae Masitte di Salawano, kemudian di Hatu Malawanno di Hinaratu, dan Hatu Malawanno di Elhauw. Setelah itu, ke Wae Kapitang Kawal juga di Elhauw, Wae Pikal di Salaiku, dan Wae Soumete di Sidawaallo. Setelah itu kembali ke Baileu Tomagola Paelemahu.

“Jadi selain mata air, Upu Lima juga membersihkan dua Hatu Malawanno (atau batu pamali) di Hinaratu dan di Elhauw,” ujarnya, seraya menambahkan, di Rumah Adat Tomagola Paelemahu terdapat 10 marga, selain Upul Lima dan pimpinan perang (Salatalohy), juga Pelupessy yang bertugas memukul tipa, Toisutta memukul gong, Saimima Boria bakar Pattamarang, serta Pikal tutup bungan bungan, atau bagian atas, penutup atap rumah adat.
Di bagian lain, Adam Sopaheluwakan menyebut, di setiap mata air yang dibersihkan, termasuk Hatu Malawanno—Batu Pamali, Upu Lima berdoa dan berzikir, agar para leluhur menjaga negeri, menjaga seluruh anak cucu Siri Sori Islam, dan menurunkan rahmat baik di laut, maupun di darat—tentunya melalui sang Khalik, Allah SWT.
Ketika hendak memasuki Karapodi, di wilayah ‘kekuasaan’ moyang Pikal, tepatnya di jembatan kecil, Upu Lima dicegat. Saat itu, bertindak sebagai manifestasi Moyang Pikal sambil memegang ayam jantan putih ‘berdialog’ dengan pimpinan Upu Lima– tuan tanah yang oleh bahasa Siri Sori Islam dinamai ‘Amanopunno’. Usai dialog, tentunya dengan bahasa leluhur, moyang Pikal kemudian memberi ayam jantan putih, sekaligus menamai Amanopunno dengan gelaran ‘Lohilo Manuputi”.
Dalam narasi Siri Sori Islam penyerahan ayam jantan putih bukanlah sekadar simbolisme semata, melainkan memegang posisi sakral, dan syarat akan filosofi kehidupan. Dan, yang lebih penting, memberikan sesuatu yang putih berarti menyerahkan “kebenaran” kepada pihak lain untuk dinilai dan diterima.

Sementara dalam konteks leluhur Siri Sori Islam, ayam putih jantan adalah jembatan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Bahkan, ayam jantan dalam budaya leluhur dianggap sebagai “penjaga waktu” dan cermin sejarah maha hebat. Dimana suara kokoknya adalah alarm alami yang membelah kegelapan, menyambut cahaya fajar yang terang.
Jika dilihat dari makna filosofisnya, tentunya penyerahan ayam jantan putih selain melambangkan harapan akan “kehidupan baru”, juga adalah penghormatan tertinggi bahwa, sang penerima memiliki peran sebagai pemandu bagi masyarakat.
Keseluruhan ritual ini bukan sekadar aktivitas fisik semata, melainkan manifestasi spiritual dan ekologis begitu bermakna. Bahkan, peran bersama membersihkan mata air, setidaknya mereka sedang mengirimkan pesan kepada masyarakat bahwa, integritas kepemimpinan negeri tidak semata kekuasaan absolut berjarak, melainkan tanggung jawab kolektif.
Artinya, jika dilihat dari kacamata masa kini—dimana integritas sering kali menjadi barang langka, namun tradisi semacam ini tetap hadir sebagai kompas. Tradisi ini juga bukan sekadar rutinitas pembersihan fisik, melainkan sebuah manifestasi filosofis tentang hubungan antara pemimpin, masyarakat, dan alam semesta.
Tujuannya hanya satu, memperkuat kohesi sosial. Dimana ritual ini menjadi titik temu warga dan perangkat adat terlibat dalam satu tujuan yang sama, sebagai pengingat bagi masyarakat bahwa mereka adalah pewaris dari sistem nilai yang agung, dan nilai yang tetap relevan meski dunia telah berubah sekalipun.
Pembersihan mata air ini seakan menuntun pemimpin untuk kembali ke “sumber”, yaitu kejernihan hati dan keberpihakannya kepada keberlangsungan hidup masyarakat. Sebab pada akhirnya, seorang Raja yang berhasil memimpin adalah yang mampu menjaga agar mata air kehidupan masyarakat tetap mengalir jernih.
Di sisi lain, secara filosofis, mata air adalah cermin dari hati seorang pemimpin. Jika sumbernya bersih, maka aliran kehidupan yang sampai ke masyarakat akan membawa keberkahan. Sebaliknya, jika mata airnya tercemar, maka seluruh negeri akan menanggung dampaknya. Demikian pula jika seorang pemimpin kehilangan arah, seluruh tatanan adat bakal goyah.
Disinilah mengapa, pembersihan mata air tidak terlepas dari “audit batin” bagi Raja yang sadar bahwa, jabatan bukanlah tentang kekuasaan, melainkan tentang pelayanan yang bersih. Sebab, seorang raja bukan sekadar penguasa, melainkan penjaga amanah—seperti mata air yang terus hadir untuk memberi kehidupan yang jernih, menyejukkan, dan menghidupkan. (din pattisahusiwa/bersambung).


















