Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
banner-pemkot
DaerahMakassar

Sisi Lain Pelantikan Raja Siri Sori Islam (5). Keluar dari Rumah Imam Kaplale, Dijemput Pakai Kora Kora

×

Sisi Lain Pelantikan Raja Siri Sori Islam (5). Keluar dari Rumah Imam Kaplale, Dijemput Pakai Kora Kora

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Tradisi di Negeri Siri Sori Islam bukan saja masih lestari, melainkan merupakan mosaik begitu indah. Salah satu prosesi yang sarat makna adalah, calon rajanya  dijemput menggunakan perahu tradisional, atau kora kora, dari rumah imam negeri. Penjemputan ini sebagai penanda, nilai-nilai adat, berpadu mesra dengan ajaran Islam!!!

Kekalahan tim Belanda dalam  turnamen dunia, Selasa, 30 Juli, bukan semata membuat warga Belanda terkejut dan marah besar, namun saya sebagai salah satu fans juga kecewa. Kekalahan tim Oranje itu membuat dua surat kabar di negeri Kincir Angin itu, “De Telegraaf” dan “Algemeen Dagblad” pun mengkritik, sekaligus menyebut dua orang yang seharusnya bertanggungjawab adalah Ronald Koeman—pelatih, serta Virgil van Dijk—kapten.

Example 300x600

Pertandingan dimulai dengan sempurna bagi “De Molens”, setelah Cody Gakpo berhasil mencetak gol pembuka di babak kedua, berkat pertahanan yang solid dan penampilan gemilang,  kiper Bart Verburg, yang menyelamatkan timnya dari beberapa peluang emas Maroko.

Meski Belanda berhasil mempertahankan keunggulannya hingga menit-menit akhir, sebelum tim ini menerima pukulan telak berupa gol dicetak Issa Diop melalui sundulan di masa injury time, setelah ia mengungguli Virgil van Dijk dalam duel udara, sehingga pertandingan dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.

Di masa perpanjangan itu, Maroko lebih dominan. Malah lebih berbahaya. Sementara Belanda mengalami penurunan baik secara fisik maupun mental. Adu penalti akhirnya menentukan kemenangan bagi “Singa Atlas”, di tengah kegagalan Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crescencio Somerville dalam mengeksekusi tiga tendangan penalti.

Kekalahan tim kebanggaan itulah membuat saya harus hijrah ke Tim Maroko, setelah berpikir selama dua hari. Hijrahnya ke tim Maroko inilah menggairahkan saya membuat narasi bersambung Sisi Lain Pelantikan Raja Siri Sori Islam (5) ini. Judulnya “ Meminta Restu Langit di Rumah Imam Negeri, dan Kora Kora”. Narasi ini saya tulis di sela sela makan siang di ruang kerja Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar, Jalan Teduh Bersinar Makassar No 5 Makassar, Kamis, 2 Juli siang ini. Selamat membaca.

Di negeri Siri Sori Islam, ada semacam adegium yang dipegang kuat. “Adat bersendi syara, Syara bersendi Kitabullah”. Kaitan inilah membuat imam negeri merepresentasikan Syara, sebaliknya raja memegang kendali atas adat.

Sabtu, 23 Mei 2026, pagi misalnya, calon raja Siri Sori Islam bersama Permaisuri mendatangi rumah Imam Negeri di Kompleks Garuda Manuhua. Kedatangannya sebagai penanda kerendahan hati, untuk mendapat doa dan pembersihan spiritual ringan, agar nantinya memimpin dengan hati yang bersih.

Mengapa calon raja ke rumah imam negeri? Bagi masyarakat yang masih memegang teguh petuah para tetua, rumah Imam bukan sekadar tempat tinggal, tetapi di dalamnya ada ruang, di mana doa-doa disemai dan di mana hukum adat bersandar.

Imam negeri juga bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan “Restu Rakyat”, sekaligus “Restu Langit”, makanya jika seorang raja yang dinaikkan oleh adat, namun tidak memiliki restu dari pemegang otoritas agama, dianggap pincang. Malah, tanpa langkah ini, posisi raja dianggap tidak memiliki “kaki” yang berpijak pada nilai-nilai kebenaran.

Di dalam tradisi bertutur di negeri berpenduduk sekitar 4 ribuan jiwa ini, kedatangan calon raja ke rumah imam, karena didalamnya ada pesan simbolis yang dikirimkan kepada semesta. Karenanya, dia melangkah menuju sebuah rumah sederhana, sebuah kediaman yang dikenal sebagai Moyang H.Ali Kaplale (Alm—sebuah tempat yang didedikasikan untuk menghidupkan warisan intelektual dan spiritual.

Alasannya jelas, seorang pemimpin tidaklah berdiri di atas kekuasaan murni, melainkan di atas keberkahan iman dan restu tuhan, sekaligus menjadi simbol, di mana, seorang pemimpin”dilahirkan” atau setidaknya dimatangkan dalam suasana spiritual.

Penuturan lain menyebut, saat  pemangku adat mendatangi rumah imam, di sana terjadi proses tabayyun dan konsultasi. Ini membuktikan, Islam tidak menafikan adat yang baik (al- ‘adatu muhakkamah—adat yang tidak bertentangan dengan syariat dapat dijadikan hukum). Di sinilah, sang imam berperan sebagai pemberi pencerahan agar setiap keputusan adat tetap berada dalam koridor “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”.

Di saat calon raja dan permaisuri masuk dan melangkah ke rumah Imam negeri, terlihat keheningan begitu dalam. Langkah kaki keduanya di atas tanah, seolah selaras dengan detak jantung bumi. Mereka tidak datang dengan riuh rendah, melainkan dengan tata krama yang terjaga, sebagai cerminan bahwa, pemimpin datang dengan kerendahan hati.

Langkah kaki raja menuju rumah Imam negeri sekaligus adalah langkah paling krusial sebelum dia menapaki anak tangga tahta.

Di rumah Imam, calon raja bersama permaisuri duduk di kursi di ruangan tengah. Di samping kanan ada Din Saimima-mewakili klan Samima. Samping kanannya lagi berdiri Maryam Kaplale. Ada pula Imam Negeri saat ini Adede Kaplale, di sampingnya lagi ada Radi Kaplale, dan Mansur Kaplale. Mereka semuanya menggunakan pakaian serba putih. Di dinding rumah tua itu juga terpajang sejumlah gambar yang telah termakan usia.

Berada di rumah imam ini, seakan diingatkan tentang amanah. Sebab, Imam adalah pengingat bahwa di atas raja, ada Tuhan yang kelak akan meminta pertanggungjawaban atas setiap titah yang dikeluarkan. Disinilah, calon raja secara tidak langsung sedang mengikat dirinya sendiri dengan sumpah agama, sekaligus belajar bahwa takhta bukanlah tempat untuk dilayani, melainkan tempat mengabdi sebagai khalifah di muka bumi.

Dengan mendatangi Imam, calon raja secara tidak langsung sedang mengikat dirinya sendiri dengan sumpah agama. Dia meyakini, takhta bukanlah hak untuk meninggikan diri, melainkan mengabdi sebagai khalifah di muka bumi.

Saat akan meninggakan rumah imam negeri, maka saat itu pula dianggap sebagai momen di mana “tali pusar” diperbarui. Calon raja yang keluar dari pintu rumah Imam melambangkan seorang pemimpin  telah “dilahirkan kembali” melalui doa-doa sang Imam. Ia bukan lagi pribadi yang memiliki ambisi individu, melainkan perwujudan dari kehendak kolektif masyarakat negeri Siri Sori Islam.

Dra.Sehat Raihana Kaplale, dikonfirmasi, Rabu, 1 Juli 2026 di Jakarta mengakui, saat calon raja menyambangi rumah Imam Negeri dirinya dan sejumlah keluarga juga ada.

“Ini rumah moyang kami. Namanya, Moyang H.Ali. Beliau dulu imam negeri Siri Sori Islam ini. Di rumah ini berkah. Sebab, tempatnya titik tumpu (axis mundi) di mana seakan bumi dan langit saling membisikan tentang keesahan tuhan, tentunya melalui berkumandannya ayat ayat Qur’an.

Di rumah ini, ada sejumlah perlengkapan masih utuh. Salah satunya tempat air–Gentong. Dan ketika calon raja hendak keluar rumah, kakinya dibersihkan. Airnya diambil dari gentong dari dapur menggunakan baskom,” tuturnya.

Menurut penuturan keluarga, jelas Sehat Raihana Kaplale, Imam Moyang Ali sangat kharismatik. Almarhum bahkan dikenal sebagai simbol keseimbangan, yaitu keseimbangan antara kedalaman dzikir dan ketegasan amal.

Petuah petuah, dan tutur katanya dipegang erat hingga saat ni. Di tengah malam pun, beliau selalu berdoa, kiranya Allah menurunkan rahmat, dan menjauhkan negeri dari mara bahaya.

Sehat Raihana juga mengalogikan “lihatlah lautan yang memberi tanpa membeda-bedakan ikan mana yang berhak berenang di atasnya. Lihatlah pula bintang bintang yang tidak memperebutkan cahaya. Yang satunya tidak merasa lebih tinggi dari yang lain, meski yang satu lebih terang. Bintang bntang itu bergerak dalam satu harmoni, lantaran mereka tunduk pada satu poros, yakni pusat kehendak ilahi.

Itulah mengapa Imam Moyang Ali Kaplale dulu memiliki ketajaman akal yang membedakan antara kebenaran atau haqq, dan kebatilan dalam diri manusia.

Moyang Imam Ali juga tahu persis bahwa, Islam tidak semata disebarkan melalui syariat, melainkan juga melalui ‘pendakian spiritual”. Karenanya, mereka memiliki ketarikan batin dengan laut, dan alam. Imam Ali kemudian memaknainya sebagai samudra ilmu” yang tak bertepi.

Beliau adalah ‘cahaya” yang menuntun masyarakat Siri Sori Islam untuk kembali berlayar dalam samudra hikmah, dan berlabuh pada kebenaran yang satu.

Ace—sapaan akrab guru SMPN 12 Makassar ini mengemukakan, sebelum keluar dari rumah Imam, Maryam Kaplale—salah seorang turunannya mencuci telapang kaki calon raja. Maksud mencuci telapak kaki merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap amanah yang akan dipikul sang raja dalam mengatur kemaslahatan masyarakat. Serta, mengajarkan bahwa, di hadapan Allah, tidak ada perbedaan derajat berdasarkan jabatan. Yang ada hanyalah perbedaan dalam ketakwaan.

Sebelum meninggalkan rumah tua, H.Urian Kaplale membacakan doa selamat. Calon raja dan permaisuri pun dijemput menggunakan perahu tradisional, atau kora kora– merupakan salah satu tradisi yang paling magis dan sarat makna.

Tradisi yang masih lestari di negeri asal Kapitan Said Perintah—tokoh sentral dalam perang Pattimura 1817 ini, merupakan sebuah mosaik indah. Penjemputan ini bukan semata fisik, melainkan perjalanan batin. Yakni, seorang hamba tuhan disucikan oleh tradisi, diberkati agama, dan dijemput  masyarakatnya untuk menjadi payung bagi negeri.

Para Upu Lima dipimpin perwakilan klan Salatalohy yang sudah bersiap di bibir jalan, memberi isyarat kepada calon raja dan permaisuri menaiki kora kora. Setiap langkah yang menyentuh tanah, maka saat itulah terakhirnya dia sebagai warga biasa.

Saat kora-kora mulai membelah keramaian, meninggalkan rumah Imam, sang calon raja menoleh ke depan. Ia tahu, di pundaknya kini tidak hanya terletak nasib negeri, tetapi juga kehormatan leluhur yang diwariskan melalui setiap pendayung.

Ketika calon raja di atas kora-kora, dia diingatkan bahwa, rakyatnya adalah penumpang yang harus dijaga, hingga sampai ke tujuan, yakni kesejahteraan.

Dan di saat dia melangkah, tidak terdengar sorak-sorai. Yang ada, hanyalah nyanyian kuno dalam bahasa tanah, yang mengisyaratkan doa agar sang pemimpin tetap lurus jalannya, sekeras kayu perahu yang seakan menembus ‘ombak’, namun selembut riak air saat membelah haluan.

Jika ditilik dari narasi kosmologis yang agung, setidaknya, calon raja saat itu, melihat jalan raja sekadar dipandang sebagai hamparan laut sebagai penghubung peradaban. Dimana, raja nantinya bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan poros yang menyatukan unsur darat (negeri) dan laut.

Mengapa menggunakan kora-kora?  Kora-kora yang membelah ombak, bukanlah sekadar alat transportasi, melainkan perlambang bahtera kehidupan. Sebab, dalam perspektif Islam, hidup di dunia diibaratkan sebagai perjalanan di atas samudera yang luas.

Sinergi antara pendayung yang kompak dan nakhoda yang bijak, mencerminkan ruh Syura, atau musyawarah. Tidak ada raja yang bisa melaju tanpa dukungan rakyatnya, sebagaimana kora-kora tidak akan bergerak tanpa keselarasan irama pendayungnya.

“Mengarungi laut” menuju rumah raja, menandakan, calon raja harus memiliki hati yang jernih, seluas samudera, dan mampu menetralisir konflik dengan kebijakan menyejukkan. Laut yang bergelombang adalah pelajaran tentang tantangan—bahwa kepemimpinan bukan tentang kemudahan, melainkan  keteguhan menjaga keseimbangan di tengah arus perubahan zaman.

Para pendayung, dengan otot yang berkilau terkena cahaya matahari pagi, mengayuh dengan irama serempak. Sambil berjalan mereka melantunkan syair syair masa lalu dalam bentuk nyanyian.

Buang Pelupessy Bin Alm.Abbas Pelupessy (Obyek) mengaku, syair yang dinyanyikan saat mengantar calon raja dan permaisuri menggunakan Poli Poli di karang  oleh  H.Ali Patty (Kumullo–Alm) adalah :

“Oh Mae Polo Poli Lawa Hasa – Haso.  Hasa Nusa Ina Hehi Nusa Ama oo (2x).

Oh Lawa Hasa Hasa Hehi Nusa Ama Oo. Timi Hutuwai wehe Haito Manuhua 00 (2 x).

Oh Masiriki Tiha Lolo Masanaito. Lolo Masanaito Loto Yoni E Lau Woo (2x).

Oo..Toma’ oo—Toma’oo…..Toma Hasa Hasa Haito Ka Ma Soni Yoo (2x).

Haito Kamasony Tomagola Pailemahu oo. Tomagola Pailemahu i yasa soa siwa oo (2x).

Oh..Masiriki tiha lolo masa naito…Lolo Masanaito Loto Yoni Elauwoo (2x)

Oh ..toma oo..Toma oo.  Toma Hasa Hasa Haito Pele Timu Woo..(2x)

Haito Peletimu Tomagola Pailemahu Woo (2)

Haito Peletimu TomagolaPailemahu oo…Tomagola Pailemahu I Yasa Soa Siwa oo (2x).

Masariki Tiha Lolo Masa Naitoo. Lolo Msanaito lolo Yony Elauwoo (2x)

Oh Toma o..Toma oo. Toma hasa hasa Haito Kamasoni yoo(2x).

Haito Kamasoni Tomagola Pailemahu woo. Tomagola Pailemahu Teuna Nuru Lete 00 (2x).

Di jalanan, di bawah langit yang mulai membiru, calon raja pun terlihat berikrar dalam diam. Bahwa dia akan melayani, sebagaimana air laut melayani setiap perahu yang melintas di atasnya—tanpa pernah meminta balas, tanpa pernah mengeluh—namun selalu menjaga agar negeri dan masyarakatnya tidak tenggelam. (din pattisahusiwa/bersambung).

 

 

 

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *