Siri Sor Islam, Pattisnews.com:
Suara rebana yang ditabuh dengan irama khas Hadrat terdengar semakin magis. Setiap dentuman seirama dengan langkah kaki yang menapak di atas jalanan basah. Lantunan selawat yang dibawakan secara kolektif, menyatu dengan suara rinai hujan.
Ada energi kolektif yang tak terjelaskan– sebuah perasaan meski di tengah badai sekalipun. Ini terlihat saat ratusan anak muda dan orang tua, termasuk mantan Rektor IAIN Ambon yang kini Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Ambon– Prof.Dr.H.Hasbollah Toisutta, Ketua BASISDA Jakarta–Taha Wattiheluw, perwakilan berbagai Ikatan Keluarga Siri Sori Islam (IKASSI) seluruh Indonesia berbaur dalam hajatan Hadrat sekaitan pelaksanaan Idul Qurban di Negeri Siri Sori Islam, Kecamatan Sapartua Timur, Maluku Tengah, Rabu, 27 Mei petang.
Hadrat di tengah hujan bukan lagi sekadar parade budaya Islam, melainkan bentuk “pembersihan” spiritual. Seolah-olah, saat jiwa sedang menyambut Idul Qurban—hari di mana manusia belajar tentang ketaatan ketaatan Nabi Ibrahim—alam pun ikut membasuh bumi dengan air yang suci.
Detik detik menjelang Hadrat dimulai, di negeri yang kini dipimpin Raja Syarifuddin Pattisahusiwa (dilantik, 23 Mei) langit tidak sedang bersahabat. Awan hitam yang menggantung rendah perlahan tumpah, mengubah suasana yang tadinya tenang menjadi riuh oleh dentuman butiran hujan yang menghantam kepala. Gema rebana justru terdengar nyaring, bersaing dengan gemuruh langit yang tak mereda.
Meski basah akibat percikan air, dari hentakan kaki peserta menciptakan irama visual yang indah. Tidak ada wajah mengeluh karena basah, tidak ada keluhan karena dingin. Yang ada hanyalah wajah-wajah berseri. Pengorbanan akan menjadi puncak dari segala doa yang mereka lantunkan usai pelaksanaan shalat Idul Qurban.
Ada senyum yang merekah di sela-sela kedinginan. Inilah wajah Islam di Negeri Siri Sori Islam yang hangat, egaliter, dan penuh dengan kearifan lokal yang kental. Bahkan, mereka kompak, dan kerja sama.
Saat hujan turun, kekompakan itu justru semakin terasa. Mereka saling menjaga satu sama lain, menyatukan suara rebana agar tidak tenggelam oleh suara hujan. Inilah inti dari Islam. Inilah kebersamaan dalam ketaatan. Hujan tidak memisahkan mereka, justru mempererat ikatan ukhuwah Islamiyah di antara warga Siri Sori Islam.
Salah seorang peserta mengaku bernama Usman Sanaky—perantau Siri Sori Islam di Kota Makassar mengapresiasi generasi muda, bahkan orang tua dengan suara menantang mengatakan, sedikit badai tidak akan pernah bisa menyerap api semangat yang menyala di dalam hati masyarakat Siri Sori islam.
Usai Hadrat, tokoh masyarakat Siri Sori Islam, M.Saleh Wattiheluw mengaku bangga dengan hajatan bernuansa Islam ini. Meski begitu, mantan anggota DPRD Provinsi Maluku asal Partai Bulan Bintang (PBB) itu memberi masukan, jika ada kegiatan serupa dimulai dari matahari naik. Salaiku misalnya.
“Selama ini, semua kegiatan apapun itu disambut dari Manuhua—di mana matahari masuk. Sebaiknya, kita bahas kembali, apakah pada momen momen tertentu dimulai dari Salaiku. Minimal di kampung Baru,” harapnya di pelataran masjid megah Siri Sori Islam, Baiturahman. (din pattisahusiwa)














