Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
banner-pemkot
Daerah

Tahlilan 100 Hari Mama Mantu Bea

×

Tahlilan 100 Hari Mama Mantu Bea

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Siri Sori Islam, Pattisnews.com:

Sehari setelah pelantikan Syarifuddin Pattisahusiwa sebagai Raja Negeri Siri Sori Islam, kami keluarga besar Sopamena/Kaplale menggelar tahlilan 100 hari meninggalnya mama Hj.Bea. Tahlilan, bada subuh.

Example 300x600

Tahlilan 100 hari ini, sejatinya adalah pertemuan antara rasa rindu, dan harapan akan syafaat. Di hajatan ini pula, kami keluarga, tidak sedang “menghidupkan”   mama mantu yang telah meninggal, melainkan sedang “menghidupkan” hubungan dengan Sang Pencipta melalui wasilah doa untuk almarhumah.

Saat kalimat La ilaha illallah menggema di ruang tamu, kami jadikan sebagai ruang penenang bagi hati kami yang kehilangan. Artinya, kami sedang memastikan bahwa, kasih sayang pada mama mantu Bea tidak pernah benar-benar lekang oleh waktu.

Meski, mama Bea tidak lagi bisa menyapa di depan pintu, namun melalui doa-doa yang kami kirimkan, utamanya di momen 100 hari ini, sebagai penanda, kami sedang memastikan bahwa, kasih sayang padanya begitu besar.

Dan di subuh hari ini, seperti 100 hari lalu, kami ingat akan detik detik terakhir kepergianmu. Ponaan, sekaligus cucu Fira mem-vidio-kan momen perjalanan itu. Istri saya, sekaligus anak tertua—Alama– selalu memberi aba aba baik kepada Fira, maupun Rahmat-adiknya. Yang pada akhirnya kami semua pasrah. Kami semua pun melafazkan ‘Innalillahiwainna Illa Hirajiun’.

Dini hari itu, di tengah kesunyian, saya melihat Alama menunduk. Tangisnya pelan. Tidak lagi menderu. Terlihat butiran air mata yang jatuh pelan, seiring dengan kumandang azan Subuh yang memecah keheningan di kompleks Anggrek Taman Rianvina—Minasaupa Makassar.

Di dalam hatinya, ada ruang kosong yang terasa begitu luas, namun pada saat yang sama, dia merasakan kedamaian yang aneh—seolah-olah dia memahami bahwa, ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan pintu menuju pertemuan yang lebih abadi.

Alama meyakini benar, dalam narasi Islam, kepergian orang tua—terutama ibu—bukan sekadar peristiwa biologis. Ia adalah perpisahan sementara dengan salah satu pintu surga yang dianugerahkan Tuhan di dunia.

Alama melihat, sosok mama Bea adalah madrasah pertama, sekaligus tempat di mana dirinya belajar tentang kasih sayang tanpa syarat, pengorbanan tanpa pamrih, dan ketangguhan yang lembut.

Apalagi, dalam aliran air susunya mengalir tidak hanya nutrisi jasmani, tetapi juga nutrisi ruhani—ajaran pertama tentang ketergantungan, kepercayaan, dan ikatan.

Karenanya, ketika mama mantu Bea meninggal, seolah-olah salah satu mata air kasih sayang di dunia ini mengering. Namun dalam pandangannya, mata air itu hanya berpindah tempat—dari dunia fana menengah ke alam keabadian.

Alama pun berkata, Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Apabila seorang manusia meninggal, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang mendoakannya.” Di sinilah anak menemukan pelipur lara—dengan melanjutkan warisan kebaikan sang ibu, dengan mendoakannya tanpa henti, dengan menjadi manusia yang akan mempertemukannya kembali di surga.

Seorang penyair sufi abad ke-13, Rumi, pernah menulis, “Kematian bukanlah akhir. Ia hanyalah perubahan keadaan.” Dalam konteks kepergian orang tua, perubahan keadaan ini mengajarkan tentang hakikat hubungan yang sebenarnya—bahwa ikatan ruhani tidak terputus oleh kematian.

Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah. Irji’i ila rabbiki radiyatam mardiyyah. Fadkhuli fi ibadi. Wadkhuli jannati–“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku

Narasi Al-Quran surat  Al-Fajr: 27-30 di atas menyoroti pemahaman kematian bukanlah akhir dari kehidupan, tetapi sekadar jeda sebelum perhitungan dan amalan terakhir. Sebab, kematian dipandang sebagai transisi, jembatan yang menghubungkan kehidupan duniawi  dengan kehidupan kekal, akhirat.

Tentunya, kepergian menghadap Allah di usia 84 tahun dari anak ke 4 dari 8 bersaudara pasangan H Abdullah Sopamena dan Hj Djohra Binti Ahmade Polhaupessy, menyisahkan duka mendalam.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *