Menyambung narasi pertama berjudul “Mengapa Sabtu, 23 Mei 2026”, sisi lain dari Pelantikan Raja Siri Sori Islam kali ini adalah “Jangan Biarkan Saya Sendiri”. Narasi kedua yang ditulis usai menonton siaran langsung babak penyisihan antara Iran vs Selandia Baru pagi tadi ini bersentuhan dengan catatan kaki yang tertinggal dari 23 Mei 2026, Abang H.Lutfhi Sanaky yang diunggah di WA Grup Manawa Sissodi, Senin, 15 Juni 2026.
‘Jangan Biarkan Saya Sendiri” yang disampaikan Syarifuddin Pattisahusiwa—tentunya dalam bahasa Siri Sori Islam “Tau boleh mikehe ai sa’u eha”, usai menjemput perantau asal negeri Kapitan Said Perintah—tokoh sentral dalam perang Pattimura 1817, Kamis, 21 Mei. Atau, bersamaan dengan dua hari sebelum pelantikan dirinya sebagai Raja Siri Sori Islam, Kecamatan Saparua Timur, Maluku Tengah.
Suasana di pesisir pantai Manuhua, tepatnya di gerbang masuk negeri berpenduduk sekitar 4 ribuan siang itu, seribuan perantau berdatangan. Mereka berasal dari berbagai kota dan daerah di seluruh Indonesia. Salah satunya dari luar negeri, Siti Sanaky.
Di Pantai Manuhua, Arfat Sanaky—mengaku datang bersama dua puluhan keluarga yang mengatasnamakan Ikatan Keluarga Siri Sori Islam, atau IKASSI Makassar. Tenaga Kesehatan di Puskesmas Minasaupa, Kecamatan Rapoccini di kota yang kini dipimpin Walikota dan Wakil Walikota Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham itu berujar, di atas kapal Labobar bertemu dengan lebih 50 warga Siri Sori Islam yang mengatasnamakan BASISDA Jakarta. Di kapal yang sama ada juga IKASSI Surabaya. Tiba di pelabuhnan Bau Bau sejumlah keluarga Siri Sori Islam di Sulawesi Tenggara juga bergabung.
Tentunya, bertemu di atas kapal, apalagi keluarga sendiri begitu berkesan. Di atas kapal, mereka saling bersalaman, merangkul, bersenda gurau. Hingga, makan bersama. Mereka tiba di Palabuhan Yos Sudarso Ambon, Senin, 18 Mei, malam.
Dari Manuhua ke rumah raja, mereka jalan kaki. Di sepanjang perjalanan, para khalifah, tentunya dipadu dengan ritme rebana, menyatu dengan getaran suara yang membelah keheningan. Hadrat yang mendayu, seolah memanggil jiwa-jiwa untuk kembali pulang ke tanah asal. Tanah tumpah darah.
Suara tabuhan rebana itu berpadu dengan alunan syair Hadrat—puji-pujian kepada Sang Pencipta dilantunkan dengan harmoni, hingga merasuk ke relung kalbu.
Menggunakan jubah hitam bersurban dihiasi ukiran bermotif, calon raja berjalan dengan tenang, dan penuh wibawa. Di sampingnya, calon permaisuri tampil anggun dalam balutan gamis—juga berwana hitam dipadu jilban merah maron, melambangkan kemegahan tradisi yang tak lekang oleh waktu. Keduanya terlihat serasi.
Pakaian berwarna hitam di Kamis manis yang dipakai keduanya hari itu sebagai simbol kesederhanaan, kerendahan hati, sekaligus penyerahan diri. Di sisi lain, warna hitam juga sebagai pelambang wibawah dan kesopanan.
Keduanya berada di depan, membawa pesan bahwa, sejauh apa pun kaki melangkah, akar budaya dan ikatan iman adalah pelabuhan terakhir yang akan selalu menanti dengan alunan doa yang tak pernah putus.
Di tengah dentuman rebana yang sesekali semakin cepat dan penuh semangat. Tidak ada sekat, calon permaisuri, dengan gestur yang penuh kelembutan, memberikan senyum sebagai simbol penerimaan dan kehangatan persaudaraan.
Dentuman rebana berirama konstan, seakan menjadi detak jantung perantau yang telah lama berkelana untuk melangkah masuk kembali ke tanah kelahiran mereka. Tanah para wali.
Tradisi Hadrat yang mengiringi langkah mereka tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi sebagai bahasa spiritual yang menyucikan niat. Setiap bait lagu yang dilantunkan adalah doa sebagai momen penyatuan mereka.
Di tanah Siri Sori Islam, pulang bukan hanya tentang sampai di rumah, tetapi tentang kembali pada jati diri yang dijaga dengan kemurnian tradisi dan keagungan bersaudara.
Saat matahari mulai menukik di ufuk barat, rombongan tiba di pelataran rumah raja. Calon raja menyampaikan sepatah kata dalam bahasa Siri Sori Islam. Suara terdengar paruh, namun jernih, membelah kesunyian yang khidmat. Ia tidak berbicara tentang kekuasaan atau takhta sebagai tujuan akhir.
Baginya, menjadi pemimpin adalah menjadi pengemban amanah yang paling berat namun paling mulia. Ada sebuah paradoks yang menusuk kalbu ketika dia berbicara tentang tanah kelahiran. Masyarakat sering diajarkan untuk bangga, untuk berdiri tegak, dan untuk menjunjung tinggi kedaulatan adat serta keyakinan yang telah mengakar kuat. Namun, ada saat di mana rasa bangga itu berubah menjadi belenggu yang dingin jika tidak bersama sama.
“Basudarao, ma’e lolo’oko i’nini ku’aman’no ehe. Aman’no ehe tau ai’sah’u anoro’olo tau, tapi iko lolo’oko. Tau boleh mikehe’e ai’sau eha. Mae lolo oko i’ak’kou ku amanno ehe. Amanno ehe iko lolo’oko kuolo”.
Pandangan calon raja itu sebagai penanda bahwa, tidak ada kapal yang bisa berlayar stabil jika kebangkitannya tidak sepaham. Makanya, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meleburkan perbedaan dalam satu ikatan yang kuat.
Ungkapan ini menjadikan, suasana berubah menjadi hening yang khusyuk. Air mata hampir menetes di pipi beberapa perantau.
Di sebelahnya, calon permaisuri terlihat seakan memberikan dukungan teduh, menyiratkan bahwa tugas menjaga negeri adalah tanggung jawab bersama—antara pemimpin dan masyarakat. Antara laki-laki dan perempuan, antara generasi tua dan muda di manapun berada.
Dia berharap seluruh masyarakat Siri Sori Islam, menggenggam erat tangan satu sama lain. Sama sama menjaga negeri, sama sama merawat tradisi, dan kita bangun masa depan dengan bahu-membahu.
Seorang perantau asal Papua berbisik kepada saya, ajakan Upu bukan sekedar retorika.Karena itu pentingnya Tala’i (persatuan) dan Sifatul Qalbi (kemurnian hati) bukan saja dari raja sendiri, melainkan seluruh masyarakat di sini.
“Kata kata calon raja ini membuat saya seketika menetes air mata. Saya salut dengannya. Kata kata ‘upu’ tadi dijadikan sebagai pegangan bahwa, negeri ini harus dilihat oleh seluruh anak negeri, bukan semata yang ada di negeri Siri Sori Islam ini semata, melainkan seluruh keluarga besar Siri Sori Islam secara keseluruhan. Minimal melalui doa,” tutur perantau mengaku berasal dari Papua.
‘First speech Syarifuddin Pattisahusiwa dua hari sebelum pelantikan dirinya sebagai raja Siri Sori Islam sangat bersentuhan dengan unggahan senior Abang H.Lutfhi Sanaky di grup Manawa Sissodi, Selasa, 15 Juni 2026.
Anggota DPRD Provinsi Maluku 2009-2014 itu memaparkan tiga poin penting. 1. Apakah pasca Pelantikan lolo oko balik belakang tinggalkan Upu Ayao dan masyarakat dengan berbagai masalah ekonomi, pengembangan Iptek Imtak untuk SDM anak anak generasi Alfa, tapal batas wilayah amanno dengan Wesiolo yang e Roro A ? Dengan potensinya termasuk di laut dan pantai ?
2. Apakah IKASSI Se- Indonesia katong balik belakang tanpa meninggalkan oleh oleh pesan titipan kepada Upu dan masyarakat untuk memajukan Amanno di segala bidang. Dan, 3, apakah dengan Pembubaran POKJA IKASSI Ambon tanggung jawab moral dan komitmen anak negeri selesai ?? atau ada pikiran positif yang tercercer bisa dihimpun menjadi energi positip membantu Amanno??????? Wallahualam….. (din pattisahusiwa/bersambung).















