Siri Sori Islam, Pattisnews.com:
Sehari menjelang pelantikan Syarifuddin Pattisahusiwa sebagai Raja Negeri Siri Sori Islam, denyut nadi negeri di wilayah hukum Kecamatan Saparua Timur ini semakin kencang. Salah satunya, Istigazah Qubra yang dilakukan seribuan warga di masjid megah, Baiturrahman, usai shalat subuh, Jumat pagi ini.
Di masjid yang menjadi icon di negeri berpenduduk lebih 4 ribuan jiwa ini, gelaran Istigazah Qubra bukan semata soal hamba bersama Sang Khalik, melainkan sekaligus momen perjanjian sakral antara masyarakat dengan tanah leluhurnya.
Sebagian besar warga, mulai remaja, hingga orang tua duduk bersila di syaff terdepan, hingga barisan paling belakang, membuat pemandangan ini khusuk.
Menariknya istigazah kubra ini, lantaran jamaahnya juga datang dari jauh. Perantau. Ada pula tokoh nasional yang juga mantan anggota komisioner KPK, Bambang Wijayanto.
Bagi perantau, dzikir ini adalah mengikat. Meski mereka telah lama melebur dengan dunia asing, pagi ini mereka diingatkan kembali akan jati diri, bahwa mereka adalah anak cucu Negeri Siri Sori Islam yang berpegang teguh “syara bersendikan kitabullah, dan Adat Bersendikan Syara”.
Bagi mereka yang telah bertahun-tahun mengadu nasib di kota besar, telah kembali. Ada kerinduan yang terobati ketika kaki mereka menyentuh tanah kelahiran, membawa pulang doa-doa yang selama ini dipendam.
Suara lantunan doa mulai membumbung. Istighosah Qubra dimulai berkumandan, takkala—tokoh agama, sekaligus sesepuh masyarakat, H.Rustam Holle memulainya. Iramanya ritmis. Menghanyutkan, sekaligus menyatu dengan deru ombak yang samar-samar terdengar dari kemesraan akibat menghantam batu yang menjulang ke laut, Hatu “Mamei’do”.
Bahkan, di saat dzikir terakhir dilafalkan, ada kedamaian. Hanya ada suara angin berbisik, memberikan jawaban bahwa langit telah mendengar, dan negeri ini siap melangkah ke babak baru, di bawah naungan restu Ilahi.
Ya Allah, ya rahim, ya Allah…….
Istigazah sekaligus yasinan, dan asmaulhusna yang dilafalkan seolah menjadi pilar-pilar spiritual yang menopang fondasi adat, dan Islam, agar tetap kokoh meski dihantam badai zaman.
Ratusan bibir pun bergerak serempak. Tidak ada sekat sosial. Tidak ada perbedaan status. Di hadapan Sang Khalik, mereka hanyalah satu tubuh yang sedang memohon keberkahan, tentunya melalui doa Qubra. Mereka berdoa, agar pemimpin yang akan dilantik Sabtu besok, dianugerahi kebijaksanaan seluas samudera dan keteguhan hati.
Di tengah keramaian, tampak sang calon Raja Adat tertunduk khusyuk. Bahunya yang akan segera memikul beban berat kepemimpinan, kini tampak pasrah dalam sujud. Dia menyadari sepenuhnya bahwa, mahkota raja adat yang akan dikenakan nanti, bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan di dunia hingga ke liang lahat.
Saat kumandang zikir perlahan mereda dan ditutup dengan doa yang panjang, kesunyian yang mendalam menyelimuti desa. Pagi ini, di bawah langit Siri Sori Islam yang cerah, masyarakatnya telah selesai melakukan “penyucian” niat.
Besok, matahari akan terbit membawa hari yang baru. Raja baru akan melangkah menuju kursi kepemimpinan, tidak lagi sebagai individu, melainkan sebagai manifestasi dari doa dan harapan seluruh masyarakatnya. Dan di Siri Sori Islam, sejarah bukan hanya ditulis di dalam hati, melainkan dipahat dalam setiap helaan napas seperti tersimpul dalam zikir yang tulus. (din pattisahusiwa)


















