Siri Sori Islam, Pattisnews.com:
Suasana Negeri Siri Sori Islam, Kecamatan Saparua Timur, Kamis, 21 Mei pagi ini riuh. Hari ini bukan hari biasa, melainkan hari ‘pulang’. Para perantau ini bukan saja datang dari Kota Ambon, melainkan daerah lain. Masohi, pulau Buru, Maluku Utara, dan daerah lainnya di tanah air. Jumlahnya pun banyak. Ribuan orang.
“Mae basudarao. Mae minusu’mae. Minusu wehe ama sissodi—mari keluarga—mari kalian masuk. Kalian masuk ke Negeri Siri Sori Islam’,” teriak salah seorang warga penuh wibawa.
Momen hari ini juga menjadi kerinduan bagi perantau selama bertahun-tahun akan kampung halamannya. Meski mereka kebanyakan mahasiswa, pekerja kantoran, akademisi, pengusaha, dan lainnya. Namun, saat menginjakkan kaki kembali di tanah Siri Sori Islam, semua atribut duniawi itu ditinggal. Mereka kembali menjadi “anak negeri” yang terikat sumpah adat dan darah yang sama.
Para perantau yang menggunakan ferry bertonase besar itu disambut di depan dermaga, pantai Manuhua, dan pintu masuk negeri. Prosesi penyambutan penuh khidmat. Seolah, menyatukan kembali detak nadi perantau dengan detak nadi negeri Siri Sori Islam.
Suasana di rumah-rumah penduduk di negeri inipun berubah menjadi pesta keluarga besar. Percakapan mengalir deras. Mereka berbicara tentang masa kecil, hingga cerita tentang kerasnya hidup di tanah rantau. Kehadiran perantau adalah simbol bahwa, sejauh apa pun kaki melangkah, akar harus tetap meresap kuat ke dalam tanah leluhur.
Mereka pulang untuk memastikan bahwa meski zaman terus berganti, adat istiadat tidak akan pernah kehilangan rumahnya.
Dan, tentunya, kadatangan para perantau ini sebagai penanda, negeri ini bukan semata memiliki “anak-anaknya” yang kembali utuh. Pulangnya perantau ini pula tidak untuk menilik rumah tua yang ditinggalkan, melainkan menjadi saksi sejarah. Pelantikan raja negeri Siri Sori Islam, Syarifuddin Pattisahusiwa.
Pelantikan anak kedua dari Raja Siri Sori Islam, Abdul Madjid Pattisahusiwa yang bakal berlangsung Sabtu, 23 Mei sebagai pucuk pimpinan adat yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan negeri, setelah ditinggal raja sebelumnya, Deddy Pattisahusiwa.
Bagi perantau, pelantikan raja adalah janji setia. Janji bahwa, tanah kelahiran tetaplah pelabuhan terakhir. Tempat, di mana doa-doa yang dibawa dari perantauan akan selalu bermuara.
Para perantau pun berharap, pelantikan raja bukan sekadar seremonial, melainkan untuk menjaga marwah negeri di tengah arus modernisasi. (din pattisahusiwa)

















