Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
banner-pemkot
Opini

Mengingat Kembali Persaudaraan Sunni dan Syiah

×

Mengingat Kembali Persaudaraan Sunni dan Syiah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Zaenuddin Endy

Sejarah panjang umat Islam menunjukkan bahwa perbedaan tidak pernah benar-benar dapat dihindari. Sejak masa awal setelah wafatnya Nabi Muhammad, umat Islam mulai mengalami perbedaan pandangan, terutama dalam persoalan politik kepemimpinan. Dari dinamika inilah kemudian lahir dua arus besar dalam sejarah Islam, yakni Sunni dan Syiah. Namun dalam perkembangan sejarah berikutnya, perbedaan itu sering kali ditampilkan secara tajam, bahkan seolah-olah menjadi garis pemisah yang tidak dapat dipertemukan.

Example 300x600

Dalam banyak diskursus publik, baik melalui media, politik global, maupun propaganda ideologis, yang paling sering ditonjolkan dari hubungan Sunni dan Syiah adalah konflik dan perbedaannya. Narasi yang muncul biasanya menempatkan keduanya sebagai dua kelompok yang saling berhadapan. Padahal jika ditelusuri lebih dalam, perbedaan tersebut pada mulanya lebih bersifat politik historis daripada perbedaan teologis yang fundamental.

Fokus yang berlebihan pada perbedaan tersebut pada akhirnya menciptakan persepsi bahwa Sunni dan Syiah adalah dua komunitas yang tidak memiliki titik temu. Padahal dalam aspek akidah dasar, keduanya tetap mengakui keesaan Allah, kenabian Muhammad, serta keabsahan Al-Qur’an sebagai kitab suci. Pilar-pilar utama iman yang menjadi fondasi Islam pada hakikatnya tetap sama.

Secara sosiologis, fenomena penonjolan perbedaan ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika kekuasaan. Dalam banyak kasus, konflik antara kelompok Sunni dan Syiah sering kali diperbesar oleh kepentingan politik negara, elit kekuasaan, atau konflik geopolitik di kawasan tertentu. Dengan kata lain, perbedaan teologis sering dijadikan simbol legitimasi bagi konflik politik yang sebenarnya lebih kompleks.

Dalam sejarah Islam klasik, relasi antara ulama Sunni dan Syiah tidak selalu diwarnai permusuhan. Banyak ulama dari kedua tradisi tersebut yang tetap saling berdialog dan berinteraksi dalam ruang intelektual yang sama. Bahkan dalam beberapa periode, karya-karya ulama dari kedua tradisi itu dipelajari secara bersamaan dalam dunia keilmuan Islam.

Realitas ini menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu berujung pada permusuhan. Dalam tradisi intelektual Islam, perbedaan justru sering dipahami sebagai bentuk keragaman ijtihad. Perbedaan pandangan dalam memahami sejarah, politik, dan kepemimpinan tidak serta-merta menghapus fakta bahwa mereka tetap berada dalam lingkup iman yang sama.

Namun dalam perkembangan dunia modern, terutama sejak abad ke-20, identitas keagamaan sering kali dipolitisasi. Identitas Sunni atau Syiah tidak hanya menjadi kategori teologis, tetapi juga menjadi identitas politik yang digunakan untuk membangun solidaritas kelompok sekaligus membedakan diri dari kelompok lain. Proses ini memperkuat narasi perbedaan dan memperlemah ingatan kolektif tentang persaudaraan.

Media dan propaganda juga memiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik. Konflik yang melibatkan kelompok Sunni dan Syiah sering diberitakan secara dramatis, sementara kisah-kisah kerja sama dan dialog antar kedua komunitas tersebut jarang mendapatkan perhatian. Akibatnya, masyarakat lebih mudah mengingat konflik daripada persaudaraan.

Padahal dalam perspektif ajaran Islam sendiri, konsep ukhuwah iman merupakan prinsip yang sangat mendasar. Al-Qur’an menegaskan bahwa orang-orang beriman adalah bersaudara. Prinsip ini tidak dibatasi oleh perbedaan mazhab, latar belakang budaya, maupun interpretasi politik dalam sejarah.

Jika kembali pada esensi ajaran Islam, maka perbedaan dalam urusan politik kepemimpinan setelah Nabi seharusnya tidak menjadi alasan untuk memutus persaudaraan. Sejarah memang mencatat berbagai konflik, tetapi sejarah juga mencatat bahwa umat Islam selalu memiliki kemampuan untuk berdamai dengan perbedaan tersebut.

Dalam banyak komunitas Muslim di berbagai belahan dunia, Sunni dan Syiah hidup berdampingan tanpa konflik yang berarti. Mereka beribadah kepada Tuhan yang sama, membaca kitab suci yang sama, serta menghadap kiblat yang sama. Realitas sosial ini sebenarnya menjadi bukti bahwa persaudaraan iman masih tetap terpelihara dalam kehidupan sehari-hari.

Persoalan muncul ketika perbedaan dipelihara sebagai identitas eksklusif yang kaku. Ketika identitas mazhab diposisikan sebagai batas absolut antara “kita” dan “mereka”, maka ruang dialog menjadi semakin sempit. Dalam kondisi seperti itu, persaudaraan iman perlahan tergeser oleh loyalitas kelompok.

Oleh karena itu, penting untuk mengingat kembali bahwa Sunni dan Syiah bukanlah dua agama yang berbeda. Keduanya adalah bagian dari sejarah besar Islam yang memiliki akar yang sama. Perbedaan yang ada lebih tepat dipahami sebagai variasi dalam tradisi pemikiran, bukan sebagai pemisah iman.

Kesadaran ini sangat penting terutama dalam konteks dunia Muslim kontemporer yang menghadapi berbagai tantangan global. Umat Islam membutuhkan solidaritas dan kerja sama untuk menghadapi persoalan kemiskinan, ketidakadilan, konflik, serta krisis moral dalam masyarakat.

Jika energi umat Islam terus dihabiskan untuk mempertajam perbedaan internal, maka potensi besar yang dimiliki oleh peradaban Islam akan sulit berkembang. Persaudaraan iman yang seharusnya menjadi sumber kekuatan justru berubah menjadi sumber perpecahan.

Karena itu, pendekatan yang lebih bijak adalah mengakui perbedaan tanpa menjadikannya sebagai alasan untuk saling meniadakan. Perbedaan pandangan dalam sejarah politik tidak harus menghapus kesamaan dalam iman. Di sinilah pentingnya membangun kesadaran bahwa keragaman dalam Islam adalah realitas yang tidak bisa dihindari.

Dalam tradisi intelektual Islam sendiri, banyak ulama yang menekankan pentingnya adab dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling mengkafirkan atau memutus hubungan persaudaraan. Justru dalam perbedaan itulah diuji kedewasaan spiritual dan intelektual umat Islam.

Pertanyaan penting yang perlu diajukan kembali adalah mengapa yang selalu diperbesar adalah perbedaannya, bukan persamaannya. Ketika umat Islam mampu melihat kembali titik-titik persamaan yang begitu banyak, maka narasi tentang konflik akan perlahan tergantikan oleh narasi tentang persaudaraan. Sunni dan Syiah mungkin memiliki pandangan politik yang berbeda, tetapi pada hakikatnya mereka tetap saudara dalam iman yang sama. (Penulis, Founder KOPINU– Komunitas Pecinta Indonesia, Ulama, dan Nusantara).

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *