Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
banner-pemkot
DaerahPolitikTOKOH

Alumni SPMA Ambon Pimpin Beringin Rindang Maluku

×

Alumni SPMA Ambon Pimpin Beringin Rindang Maluku

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Dalam tatanan politik Indonesia yang dinamis, seringkali terlihat bagaimana latar belakang pendidikan dan organisasi membentuk karakter, serta arah kepemimpinan seseorang. Kisah Umar Lessy, yang kini memimpin Partai Golkar di Maluku—meski Plt, adalah salah satu contoh nyata.

Kehadiran Umar Lessy ini menarik. Alumni Sekolah Pertanian Menengah Atas, atau bahasa krennya SPMA di Ambon itu dipercaya mengemban amanah memimpin partai beringin rindang itu, setelah mosi tidak percaya kepada ketua sebelumnya, Ramly Umasugi.

Example 300x600

Kepercayaan, sekaligus amanahpun menjadi menarik di kalangan alumni sekolah pertanian yang beralamat di Passo tersebut. Tidak lain, lantaran latar belakang pendidikan yang tidak lazim bagi seorang pemimpin partai politik besar, yang umumnya didominasi individu berlatar belakang hukum, ekonom, ilmu social, dan lainnya.

Penunjukan Umar Lessy ini adalah sinyal positif bahwa, partai politik, dalam hal ini Golkar, membuka diri terhadap beragam latar belakang keahlian. Ini mencerminkan prinsip meritokrasi, di mana kepemimpinan didasarkan pada kompetensi dan relevansi pengalaman, bukan hanya popularitas atau jaringan semata.

Bahkan, di era politik modern, latar belakang pendidikan dan pengalaman praktis seseorang semakin dinilai sebagai aset krusial, terutama jika relevan dengan tantangan riil yang dihadapi masyarakat dan wilayah. Penunjukan ini bukan anomali, melainkan sebuah refleksi dari pergeseran paradigma dalam dunia politik kontemporer.

Sosok Umar Lessy di kalangan rekan rekannya semasa SPMA Ambon, sebut saja Giman Saimima, maupun Apitum mengirimkan pesan kuat bahwa, latar belakang pendidikan vokasi memiliki nilai dan relevansi yang tinggi dalam berbagai bidang, termasuk politik.

Kehadiran Umar Lessy di kancah politik di provinsi para raja ini, demikian kedua rekan sesama angkatan 1995 bersama Umar Lessy itu, bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda di Maluku. Khususnya, yang menempuh pendidikan pertanian, bahwa peluang berkontribusi bagi daerah, dan bangsa sangatlah luas, bahkan hingga ke puncak kepemimpinan partai politik.

Apitum mengemukakan, kepercayaan yang diberikan Umar Lessy menjadi kesempatan emas bagi masyarakat Maluku.  Meski demikian, sebagai sesama alumni SPMA berharap, dengan figur berlatar belakang pertanian, diharapkan Golkar Maluku bisa lebih fokus pada isu-isu riil di masyarakat. Misalnya, peningkatan produksi pertanian—yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah, demi kesejahteraan petani dan nelayan, serta pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Sementara Giman Saimima mengakui, sewaktu di SPMA Ambon, bersama rekan rekannya menghuni asrama kamar 60, Umar Lessy terlihat biasa biasa saja. Saat itu dia tidak terlalu menonjol. Hanya saja, setelah tamat, dia melanjutkan kuliahnya di Fakultas Pertanian Univesitas Darussalam (Unidar) Tulehu.

Nah, jelas Giman Saimima, saat kuliah di Unidar itulah, Umar Lessy memilih bergabung ke Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di salah satu organisasi mahasiswa berpengaruh ini, Umar mulai memasang kuda kuda, sekaligus menjadikannya sebagai fondasi yang kokoh menuju posisi puncak.

Apalagi, jelas Giman Saimima, Umar Lessy itu memang dari 0. Dulu, dia mendayung perahu Poka-Galala. Termasuk tukang cuci foto di terminal Ambon, dan lain lain kegiatan.

“Saya melihat, rekan saya, Umar Lessy ini memang memiliki latar belakang yang jarang dimiliki orang. Dia pekerja keras. Dia membanting tulang. Dan dia mulai terangkat di HMI. Dia malah dipercayakan sebagai Ketua HMI Cabang Ambon. Dari HMI inilah, Umar mulai membekali diri dengan begitu banyak pengetahuan yang tidak diperoleh di bangku kuliah,” tutur Giman Saimima, melalui pesan singkat di WA.

Kepercayaan yang diberikan Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar kepada lelaki kelahiran Rohomoni, Kecamatan Pellaw, Maluku Tengah, 1976 tersebut bagi Giman Saimima, dan sesama alumni SPMA Ambon lainnya, merupakan langkah progresif dari partai yang lahir di era Orde Baru itu, lantaran dia diyakini memiliki pemahaman mendalam tentang isu-isu akar rumput di Maluku.

Apalagi, provinsi seribu pulau memiliki kekayaan budaya yang sangat kaya dan beragam. Salah satu aspek yang menarik dari budaya Maluku adalah cara mereka memandang kepemimpinan dan pengambilan keputusan.

Dalam budaya Maluku juga, kepemimpinan seringkali diidentikkan dengan konsep “adat” dan “kearifan lokal”. Adat merupakan sistem nilai dan norma yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Maluku. Sementara, kearifan lokal merujuk pada pengetahuan dan pengalaman yang telah dikembangkan masyarakat menghadapi tantangan dan kesulitan.

Konteks ini, memberi makna, betapa, kehadiran Umar Lessy  yang lahir dari rahim SPMA Ambon sebagai Plt Ketua Golkar Maluku, bukan semata menarik perhatian, melainkan memacu analisis lebih dalam tentang bagaimana budaya Maluku mempengaruhi proses kepemimpinan dan politik.

Pengetahuan dan pengalaman praktis dari seorang Ummar Lessy,  diharapkan dapat diterjemahkan ke dalam program-program partai yang lebih relevan dan berpihak pada kesejahteraan. (din pattisahusiwa)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *