Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
banner-pemkot
Politik

Elly Toisutta Ketua Partai Golkar Ambon (1). Srikandi Hebat !!

×

Elly Toisutta Ketua Partai Golkar Ambon (1). Srikandi Hebat !!

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Perempuan Hebat, Ketua DPD II Partai Golkar Ambon, Elly Toisutta bersama Plt Ketua Golkar Kecamatan Sirimau, Achmad Pelupessy. (foto:ist)

Peta politik lokal di Kota Ambon, baru saja menorehkan babakan baru yang menarik. Seorang perempuan tangguh, baru saja dipercayakan memimpin Partai Golkar. Ya, sambil menyeruput secangkir kopi Ahad, 11 Oktober malam ini, ada baiknya kita sedikit meneropong, mengapa srikandi asal tanah Lease ini mendapat Amanah memimpin partai besar, Beringin Rindang itu!!

Example 300x600

Saat menyeruput tegukan pertama kopi di Caffee Bundu, telepon seluler saya alamatkan kepada ponaan di Ambon. Achmad Pelupessy, alias Alto Pelupessy. Tiga kali berdering, dia mengangkat telepon seraya mengucapkan salam hormat. “Assalamualaikum om. Saya pun membalasnya. Kami berdua mengawali pembicaran dengan sesekali menanyakan kondisi kesehatan. Telepon seluler pun ditutup sekitaran 10 menit kemudian. Meski tidak hangat lagi, saya tetap melanjutkan tegukan kopi kedua, ketiga, dan seterusnya sambil membuka leptop Azus milik Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar di atas meja di ruang tanpa rokok, ber-AC di caffe beralamat di Jalan Talla Salapang, Minasaupa, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar ini. Perbincangan dengan anakda Alto Pelupessy yang memegang amanah sebagai Plt PAC Sirimau, Kota Ambon malam ini, kemudian saya narasikan menjadi catatan ringan ini.

Sejatinya, 10 Oktober 2026, Sabtu kemarin, selain tanggalnya cantik, juga memiliki nuansa begitu istimewa bagi kancah politik Kota Ambon. Secara numerologi, angka 1 dan 0 adalah kombinasi yang kuat. Angka 1 melambangkan permulaan, dan kepemimpinan. Sementara angka 0 menyimbolkan potensi tanpa batas, keutuhan, dan siklus kehidupan. Makanya, ketika 10 dan 10 berdampingan, maka ia membentuk cerminan, atau sebuah pengingat bahwa, hidup adalah tentang menutup siklus lama dengan baik, dan bersiap membuka babakan baru dengan potensi yang tak terbatas.

Dan, tentunya, tidaklah mengherankan, jika tanggal 10 Oktober yang mudah diingat, simetris, dan terkesan “rapi” ini dilihat sebagai tanggal dan bulan tersebut sebagai sesuatu yang istimewa, dan sarat makna. Elly Toisutta terpilih menakhodai DPD II Partai Golkar Kota Ambon, 2025-2030.

Alto Pelupessy mengaku, kepercayaan kepada sosok srikandi terhebat, Elly Toisutta, di pucuk pimpinan partai berlambang pohon beringin kali ini, tidaklah semata pergantian kepengurusan biasa. Ini peristiwa kultural, dan sosial yang memancarkan gelombang inspirasi yang jauh melampaui arena Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Ambon di Swissbell Hotel. Elly Toisutta memiliki 90 persen suara. Sementara 10 persen suara abstain dari DPD I Partai Golkar Maluku.

Di lihat dari lanskap politik lokal yang kerap diidentikkan dengan dominasi maskulin, tentunya kepemimpinan seorang Srikandi Ambon di kursi puncak Partai Golkar adalah angin segar. Fenomena ini merupakan manifestasi penting dari evolusi politik modern di kawasan timur Indonesia.

Jika ditilik dalam pandangan politik modern, kepemimpinan perempuan tidak lagi dilihat sebagai bentuk afirmasi simbolik, atau pemanis citra, melainkan lebih dari itu, kehadiran perempuan, sebut saja Elly Toisutta memegang kendali Golkar Ambon, merefleksikan pergeseran paradigma. Dari politik otot, menuju politik substansi, politik empati, dan politik kolaborasi.

Mengapa? Ya, lantaran, selama bertahun-tahun, politik lokal di berbagai daerah, termasuk di tanah Ambon, masih terbelenggu oleh budaya patriarki yang telah mengakar lama. Ruang-ruang strategis partai politik sering kali dikuasai oligarki lokal laki laki. Namun, ketika seorang perempuan Ambon berhasil memegang kendali partai sebesar Golkar di ibu kota provinsi Maluku, tentunya merupakan bukti runtuhnya “glass ceiling’ atau bisa dinamai plafon kaca.

Dalam pandangan sosiologis, perempuan Ambon memiliki akar historis yang kuat, sebagai figur pemersatu. Jika ditarik dari tradisi lokal, perempuan sering kali diposisikan sebagai ibu yang merawat keharmonisan. Ketika nilai kultural ini dibawa kedalam kancah politik modern, ia bertransformasi menjadi kekuatan strategis. Karena itu, politik tidak lagi melulu soal konfrontasi dan perebutan pengaruh, tetapi tentang bagaimana merajut konsensus di tengah masyarakat heterogen.

Kopi gula aren yang manis itu kembali saya teguk. Kali ini, disertai gigitan pisang goreng keju!

Kehadiran Elly Toisutta di kancah politik Golkar, demikian Alto Pelupessy, tentunya bukan karbitan. Dia memulainya sejak lama. Itulah mengapa, jika dibedah melalui lensa ilmu politik kontemporer, kepemimpinannya di Golkar tidak diragukan lagi. Sebab, dia memiliki cakupan dimensi bagitu penting. Pasalnya, dalam politik modern, menuntut pemimpin yang mampu menginspirasi, dan membawa perubahan nyata. Bukan sekadar transaksional, melainkan gaya kepemimpinan yang inklusif, komunikatif, dan mendengarkan menjadi senjata utama.

Selain kepemimpinan yang transformatif, perempuan kelahiran Siri Sori Islam, Kecamatan Saparua Timur, 6 April 1970 yang menyelesaikan pendiidkan formalnya di Ambon (SDN 13 Ambon-lulus 1983, SMPN 3 Ambon lulus 1986, SMAN 2 Ambon-lulus 1989, serta S1 di Universitas Darussalam Ambon tamat S.Sos 2010) itu juga memiliki identitas dan meritokrasi yang begitu berimbang. Di mana, identitas gender tidak hanya menjadi satu-satunya jualan. Melainkan dengan mengedepankan semangat kepemimpinan transformational leadership, Golkar Ambon nantinya, berpeluang besar untuk bertransformasi menjadi partai yang lebih ramah oleh kaum muda, dan kelompok marjinal.

Elly Toisutta mampu membuktikan kapasitasnya melalui rekam jejak, kompetensi, dan kerja elektoral yang telah terukur. Kehadirannya memimpin Partai Golkar Ambon, lantaran memiliki visi yang tajam untuk membawa partai yang lahir dari rahim orde baru itu dapat memenangkan hati masyarakat di Kota Manise dan di Kota Musik itu.

Meski begitu, Elly Toisutta bukan semata memiliki politik rekonsiliasi, melainkan punya kompleksitas sosial-budaya yang tinggi. Kearifan lokal seperti ikatan persaudaraan yang dimilikinya, merupakan modal sosial demikian luar biasa. Makanya, dalam pandangan politik modern, seorang pemimpin yang cerdas akan mengawinkan kearifan lokal ini dengan strategi komunikasi politik digital.

Jika dikaitkan dalam perspektif agama agama, baik Islam maupun Kekristenan, maka kehadiran Elly Toisutta memimpin Golkar, bukanlah sekadar pergantian kepemimpinan struktural biasa. Ini adalah peristiwa sosial-politik yang memantik diskursus maha luas. Utamanya, ketika bersinggungan dengan kacamata ajaran agama yang hidup di tengah masyarakat Ambon yang religius.

Dalam masyarakat yang berakar kuat pada nilai-nilai ketuhanan inilah, tentunya, kehadiran perempuan di ruang publik, apalagi menduduki tampuk pimpinan misalnya di Partai Golkar, sering kali ditarik ke dalam diskursus teologis. Dari udut pandang Islam, konsep kepemimpinan (imamah atau ri’ayah), pada dasarnya melekat pada setiap manusia sebagai khalifatullah fil ardh (wakil Allah di bumi). Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan adalah penolong bagi sebagian yang lain, dan memiliki potensi taqwa, serta amal shaleh yang setara (QS. At-Taubah: 71).

Ketika seorang perempuan memimpin Partai Golkar di Ambon dengan membawa prinsip-prinsip shiddiq (jujur), amanah (terpercaya), fathonah (cerdas), dan tabligh (komunikatif), maka kepemimpinan tersebut dinilai sah, sekaligus bernilai ibadah sosial (maslahah mursalah). Islam sangat menghargai perempuan tangguh seperti Ratu Bilqis dalam Al-Qur’an, yang memimpin negerinya dengan kebijaksanaan, musyawarah, dan visi yang matang.

Sementara dalam konteks Kristiani di Ambon, tentunya, pandangan teologis mengenai perempuan pemimpin, berakar kuat pada narasi penciptaan. Kitab Kejadian menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan menurut “Citra Allah” dan diberikan mandat bersama untuk menaklukkan dan memelihara bumi (Kejadian 1:27-28).

Dalam Perjanjian Baru, figur-figur seperti Debora, serta Hulda menunjukkan bahwa, Tuhan tidak membatasi kepemurahan Roh Kudus hanya kepada kaum laki-laki. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia (Galatia 3:28) menegaskan bahwa, di dalam Kristus tidak ada lagi pembedaan diskriminatif antara laki-laki dan perempuan.

Di situlah, maka kepemimpinan perempuan dalam kancah politik praktis dipandang sebagai bentuk pelayanan publik. Jika peran tersebut dijalankan dengan takut akan Tuhan, membawa keadilan, membela kaum tertindas, dan merawat kedamaian, maka gereja dan ajaran Kristen melihatnya sebagai panggilan moral yang begitu mulia.

Jika nilai nilai keagamaan tersebut ditarik dan dipadukan dalam kearifan lokal Maluku, tentunya, kepemimpinan politik perempuan tidak lagi dilihat sebagai ancaman terhadap tatanan tradisional, melainkan sebagai sebuah “keberkatan sosial”. Politik diposisikan sebagai wadah pengabdian moral untuk menyejahterakan manusia. Itu berarti, pandangan agama, baik Islam maupun Kekristenan, pada dasarnya tidak mengharamkan atau melarang perempuan memimpin, selama kepemimpinan tersebut dilandasi moralitas, keadilan, dan orientasi pada kemaslahatan bersama.

Dengan demikian, kehadiran seorang Elly Toisutta di kursi kepemimpinan Partai Golkar Ambon, membuktikan bahwa, sekat-sekat konservatif mulai runtuh, dan digantikan meritokrasi. Di tangan pemimpin perempuan ini, tantangannya kini adalah, membuktikan bahwa politik yang bermartabat, beretika, dan berbasis nilai-nilai religious, mampu mewujudkan Ambon yang lebih demokratis, harmonis, dan sejahtera.

Tentu saja, jalan yang harus ditempuh tidak bebas dari hambatan. Tantangan terbesar bagi kepemimpinan perempuan di partai besar seperti di partai yang digagas Soeharto dan kawan kawan tersebut adalah ekspektasi ganda. Elly Toisutta harus membuktikan bahwa dia bisa se-taktis, se-tegas, dan bahkan lebih strategis daripada para pendahulunya yang laki-laki.

Sebelum menutup suguhan perbincangan dengan nakda Alto Pelupessy, maka titk tekannya adalah, kehadiran perempuan hebat Elly Toisutta di pucuk pimpinan Partai Golkar Ambon adalah sebuah babak baru yang menarik dalam sejarah politik lokal. Ini adalah bukti bahwa Ambon, khususnya, dan Maluku, umumnya, tidak tertinggal dalam arus demokratisasi modern, di mana kesetaraan gender berjalan seiring dengan kecerdasan strategis. Ya, teguhan kopi terakhir, maka cukup di sini dulu. Kita akan sambung kembali dengan teguhan kopi lainnya di warkop yang lain, dan narasi yang lain tetapi tetap perbincangan kehebatan Elly Toisutta yang kini menjabat Wakil Walikota Ambon, dan Ketua Partai Golkar Ambon ini……Amatooo….(din pattisahusiwa-bersambung)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *