Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
AgribisnisMakassarPendidikan

Alumni STIP Al-Gazali Raih Profesor (3).  Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim

142
×

Alumni STIP Al-Gazali Raih Profesor (3).  Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Makassar, Pattisnews.com:

Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali Ujungpandang, yang kini Direktur Politeknik Pertanian (Politani) Unhas—Politani  Negeri Pangkep, Dr.Ir.Darmawan,MP, dikukuhkan sebagai Profesor Bidang Klimatologi Pertanian di Claro Hotel, Rabu 5 Februari 2025.

Example 300x600

Berikut pemaparan bersambung  ketiga dari mahasiswa jurusan Agronomi angkatan 1986 itu saat dikukuhkan sebagai Profesor bersama tiga profesor lainnya masing masing Prof.Ir.Muh.Ikbal Illjas,M.Sc.Ph.D (Kepakaran Ilmu Nutrisi dan Makanan Ikan), Prof.Dr.H.Mauli Kasmi,S.Pi,M.S, (Kepakaran Manajemen Agribisnis Perikanan) dan Prof.Dr.Ir.H.Nursidi Latif,M.Si (Kepakaran Manajemen Perikanan) itu.

Profesor Darmawan mengemukakan, keadaan masa depan, kejadian iklim ekstrem seperti kekeringan dan banjir diproyeksi akan lebih sering terjadi dengan durasi dan intensitas yang lebih tinggi. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, upaya adaptasi sangat penting dilakukan yakni  menyesuaikan pola tanam dengan pola iklim pada masa yang akan datang.

Hanya saja, walaupun proyeksi iklim menyisakan banyak ketidakpastian, upaya analitis untuk mendapat gambaran dampak perubahan iklim perlu dilakukan. Selanjutnya strategi adaptasi jangka panjang perlu disiapkan mulai saat ini seperti perencanaan infrastruktur yang perlu dibangun, pengembangan wilayah baru yang lebih tahan dampak perubahan iklim, dan pengembangan varietas yang lebih toleran kondisi ekstrem.

Proyeksi perubahan iklim umumnya memiliki ketidakpastian (uncertainty), sehingga semakin jauh periode proyeksi di masa akan datang maka tingkat ketidakpastiannya akan semakin tinggi. Skenario emisi secara umum didasarkan pada skenario perubahan faktor-faktor pengendali emisi.

Faktor pengendali tersebut berkontribusi terhadap peningkatan emisi dan konsentrasi GRK di atmosfer yang akan mempengaruhi besaran Radiative Forcing (RF, dalam satuan W m2). RF berkaitan dengan perubahan keseimbangan energi di bumi. Peningkatan nilai RF dapat menyebabkan efek pemanasan sehingga terjadi peningkatan suhu rata-rata global yang menyebabkan perubahan iklim (Wasko, et al. 2021).

Pada kondisi iklim ekstrem, parameter iklim seperti suhu dan curah hujan dapat naik atau turun secara signifikan dibanding dengan kondisi normal. Proyeksi iklim di masa depan memiliki ketidakpastian sehingga menghasilkan berbagai kemungkinan yang terjadi terhadap berbagai faktor pengendali iklim dan iklim ekstrem.

Salah satu kondisi yang mungkin terjadi akibat peningkatan suhu global adalah akan semakin meningkatnya luasan dan intensitas sirkulasi monsun (IPCC 2013). Peningkatan intensitas akan berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan ekstrem di wilayah yang terpengaruh monsun dan tidak menutup kemungkinan cakupan wilayah yang terpengaruh akan semakin luas. Hal yang perlu diantisipasi dan diadaptasi, bahwa berbagai faktor pengendali variabilitas iklim yang berperan penting dalam mempengaruhi kejadian iklim ekstrem kemungkinan memiliki respon yang berbeda terhadap perubahan iklim.

Secara umum terdapat empat kemungkinan berbagai variabilitas iklim tersebut dalam merespon perubahan iklim (IPCC 2013), yaitu: i) Tidak ada perubahan, artinya perubahan iklim tidak mempengaruhi mode variabilitas iklim sehingga akan terus terjadi seperti yang telah terjadi sebelumnya; ii) Perubahan indeks, kondisi dimana perubahan iklim berpengaruh pada perubahan distribusi peluang dari indeks mode variabilitas iklim, contohnya berupa pergeseran pada nilai rataan dan/atau ragam, atau perubahan yang lebih kompleks pada parameter bentuk seperti terjadinya perubahan pada kerapatan peluang; iii).

Perubahan spasial, dimana perubahan iklim mendorong kemungkinan terjadinya perubahan pola spasial dari suatu mode variabilitas iklim, contohnya yaitu munculnya karakteristik baru dari ENSO (seperti El Niño Modoki); atau terjadinya perubahan pada amplitudo lokal dari suatu pola iklim; iv) Perubahan struktur, yaitu kemungkinan terjadinya perubahan tipe dan jumlah mode variabilitas iklim dan keterkaitan antar mode tersebut, atau munculnya suatu mode variabilitas iklim baru yang belum pernah ada sebelumnya (Wasko, et al. 2021).

Sebagai contoh, indeks CDD atau nilai maksimum deret hari kering, dapat digunakan sebagai indikator untuk kekeringan karena nilai ini menunjukkan deret hari kering terpanjang dalam suatu satuan waktu tertentu.

Indeks Rx1day dapat digunakan sebagai indikator kejadian curah hujan ekstrem di suatu wilayah. Indeks tersebut bermanfaat untuk monitoring dan prediksi kejadian iklim ekstrim di bidang pertanian dengan mengaitkan dengan data bencana terkait iklim di bidang pertanian Kosaka, etal. (2024).

Untuk mengantisipasi dan mengadaptasi terjadinya perubahan iklim, peran berbagai mode variabilitas iklim terhadap variabilitas dan kondisi kejadian ekstrem, para peneliti juga telah melakukan pengembangan berbagai metode yang digunakan untuk identifikasi atau monitoring kejadian iklim ekstrem.

Salah satu identifikasi kondisi ekstrem adalah dengan menggunakan berbagai indeks ekstrem. Indeks tersebut dapat digunakan sebagai proksi untuk kajian bencana terkait iklim ekstrem. Hasil kajian Expert Team on Climate Change Detection and Indices (ETCCDI, lihat http://www.wcrp-climate.org/etccdi), telah menemukan 27 indeks utama (lihat: http://etccdi. pacificclimate.org/list_27_indices.shtml) yang dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan iklim terkait dengan kondisi ekstrem. Indeks tersebut dihitung dari data harian curah hujan dan suhu dan telah disepakati secara internasional (Kurniadi, et. al. 2023).

Laporan BMG 25 Desember (2024), untuk mengantisipasi dan mengadaptasi kondisi cuaca dan iklim ekrem ini, laporan BMKG tanggal 25 Januari 2025, bahwa peringatan dini terkait dengan kondisi cuaca ekstrem ini memicu terjadinya bencana hidrometeorologi berbagai daerah, terutama di daerah Jawa (Jawa tengah), Kalimantan, Sulawesi dan NTT.

Sebahagian besar daerah Jawa mengalami puncak musim hujan, khususnya Jawa Tengah, meskipun puncak musim hujan ini tidak serempak dan terjadinya bertahap mulai November, Desember (2024) hingga Januari dan Februari (2025). Intensitas curah hujan ini dipengaruhi oleh kombinasi aktif beberapa fenomena atmosfer global, seperti La-Nina lemah, Muson Asia, Madden-Julian Oscilation (MJO), serta gelombang ekuatorial Kelvin dan Rossby (seperti yang telah dijelaskan sebelumnya).

Kondisi dan fenomena astronomis semakin memperkuat bahwa fase bulan baru, yang menciptakan potensi peningkatan curah hujan, angin kencang, hingga gelombang tinggi di wilayah pesisir. Selain itu kelembaban udara yang sangat basah serta aktivitas hujan konvektif lokal, turut memicu pembentukan awan hujan yang tinggi.

Semua faktor ini menjadi pemicu utama peningkatan risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, banjir rob dan angin kencangpada berbagai daerah. Selanjutnya menurut laporan BMKG, seluruh wilayah Jawa, terutama daerah Jawa Tengah bahwa musim hujan yang terjadi sejak Desember 2024 dengan puncak hujan yang diperkirakan terjadi pada Januari hingga Februari 2025 intensitasnya lebat hingga sangat lebat yang dapat mengakibatkan terjadinya bencana. Karena itu, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dipersiapkan untuk mengantisipasi terjadinya bencana, seperti mengendalikan intensitas hujan dan meminimalkan risiko banjir. (din pattisahusiwa/bersambung)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *