Aparatur Sipil Negara (ASN) selain dituntut untuk terus adaptif terhadap perkembangan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, tetapi juga spiritual dan keimanan dalam menjalankan tugas.
Karena itulah, Bupati Maros, Chaidir Syam mewajibkan seluruh ASN lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros mengikuti pengajian rutin bulanan. Langkah ini diambil guna memperkuat karakter dan mental spiritual para pegawai dalam menjalankan roda pemerintahan. Pada Rabu, 21 Oktober misalnya, dilakukan pengajian bulanan di Masjid Baitul Khair, Kompleks Kantor Bupati Maros.
Menurut Chaidir Syam, pengajian rutinan setiap bulan menjadi sarana siraman rohani segitu mulia. Salah satu tujuannya agar pegawai Pemkab Maros tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki landasan moral yang kokoh. “Tentunya, pengajian bulanan ini menjadi sarana siraman rohani bagi ASN agar nilai-nilai agama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat menjalankan tugas pemerintahan dan melayani masyarakat,” jelasnya.
Bupati dua periode ini menyebut, kemampuan teknis dan profesionalitas ASN harus berjalan seimbang dengan akhlak yang baik demi membentuk aparatur yang bertanggung jawab, dan berakhlakul karimah, sekaligus memperkuat pemahaman keagamaan dan melakukan refleksi terhadap pelaksanaan tugas sehari-hari untuk kepentingan masyarakat.
Seperti diketahui, kegiatan pembinaan rohani kali ini menghadirkan pendakwah terkemuka, Abuya Arrasy Hasyim, yang membawakan tausiyah bertema “ASN Berakhlak dengan Meneladani Kepemimpinan Umar bin Khattab”.
Dalam tausiyahnya, Abuya Arrasy Hasyim mengingatkan seluruh ASN Pemkab Maros untuk senantiasa menjaga integritas serta tidak semata-mata berorientasi pada jabatan maupun pencairan anggaran semata. “Perlu diketahui bahwa, setiap pekerjaan merupakan amanah yang diawasi langsung Allah SWT. Karena itu, ada atau tidak ada CCTV, Allah tetap tahu apa yang kita kerjakan,” tuturna.
Da’i kelahiran Sumatera Barat tersebut juga berpesan agar sesama pegawai tidak saling menjatuhkan saat menghadapi masalah di lingkungan kerja, serta menghindari aksi pencitraan yang berlebihan ketika memberikan bantuan kepada warga. Kepedulian kepada warga yang mengalami kesulitan seharusnya dilakukan dengan tulus, tanpa harus dipamerkan kepada publik.
Ia juga mengajak para ASN untuk selalu bersyukur dan meneladani kepemimpinan Umar bin Khattab yang bersumber dari akhlak Rasulullah SAW, serta tidak mudah mengeluh jika belum mendapatkan posisi atau jabatan yang diinginkan. “Kita harus melihat peran pemberi nikmat. Jangan karena kita tidak naik jabatan, kita malah mengeluh. Akhlak Umar bin Khattab itu tidak lepas dari akhlak Nabi,” tutupnya. (titi)


















